Selasa, 22 September 2015

HIKMAH QURBAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

)الله أكبر ×9  (لا إله إلا الله، والله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أما بعد
 فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْ تُنَّ  إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُوْمُهَا وَلاَدِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ، كَذَالِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوْا اللهَ عَلَى مَاهَدَ اكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ.

Allahu Akbar 3x Walillahil Hamdu!
Hadirin Jama’ah Idul Adha Rohimakumulloh

Yang terpenting dalam berqurban adalah niat mengorbankan jiwa raga kita agar sanggup membebaskan diri dari pengaruh hawa nafsu, mampu mengendalikan diri sehingga ia tidak terjerumus kedalam perilaku hidup hedonistic, dan dalam melakukan sesuatu perbuatan, ia hanya melakukan perbuatan yang benar-benar perlu dan diperlukan; ia bertindak efisien, disiplin, istiqamah, dan selalu peduli terhadap lingkungan dalam rangka memupuk kesadaran dan solidaritas. Seluruh aktivitasnya, gerak maupun diamnya, seluruhnya ia niatkan karena Allah.

Esensi niat karena Allah adalah memurnikan ketaatan dan kepatuhan hanya kepada Allah sebagai wujud keimanan dan kesadaran selaku makhluk dan khalifah Allah di muka bumi. Niat karena Allah mempunyai fungsi antara lain: (1) menumbuhkan kesadaran tentang keberadaan (eksistensi) Allah , (2) menginsyafkan bahwa ketaatan, kepatuhan, kepasrahan, dan ketundukan hanya pantas diberikan kepada Allah, (3) menanamkan kesadaran bahwa Allah tidak membeda-bedakan manusia, tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, majikan atau buruh, pejabat atau bukan, semuanya dituntut untuk mentaati hukum; yaitu mengedepankan supremasi hukum; untuk melaksanakan kewajiban, ketentuan, dan peraturan, seluruh manusia sama di hadapan Allah; iman dan takwalah yang membuat seseorang dekat dan mulia di sisi Allah. (4) menjadikan Allah sebagai motivasi dan tujuan hidup dan (5) menghilangkan semua penyakit hati, seperti syirik, kufur, munafik, takabbur, riya, ‘ujub, dan lain sebagainya.

Keimanan dan kesadaran seperti ini, akan dapat melakukan apa saja yang diperintahkan Allah SWT, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan putranya (Nabi Ismail) pada saat Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih Ismail maka dengan sangat bijaksana Nabi Ibrahim minta pendapat Nabi Ismail dan dengan ketulusan hati Nabi Ismail menjawab “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”. Cerita ini diabadikan dalam Surat Ash Shaaffat ayat 102.
  
Allahu Akbar 3x Walillahil Hamdu!
Hadirin Jama’ah Idul Adha Rohimakumulloh

Setelah Nabi Ibrahim merasa pasti bahwa itu adalah keputusan dan ketetapan Allah SWT, dalam kepastiannya sebagai pemimpin, sebagai orang kaya, bahkan sebagai orang yang bergelar Khalilullah, sebagai orang yang mempunyai kedekatan dengan sumber hukum dan sumber kebijakan. Tidak sedikitpun tersirat di hati Ibrahim dan keluarganya agar mereka diperlakukan secara berbeda dalam melaksanakan peraturan dan ketentuan Allah SWT. Karena Nabi Ibrahim dan keluarganya sadar bahwa di hadapan Allah semua manusia sama; harus taat kepada perintah, taat kepada keputusan hukum, taat kepada peraturan dan ketentuan Allah SWT.

Kepatuhan dan ketaatan yang dijiwai oleh semangat pengorbanan karena Allah ini, divisualisasikan (diragakan) secara simbolik dengan penuh keimanan dan keinsyafan oleh mereka yang melaksanakan ibadah haji, dan mereka yang melakukan ibadah qurban.

Aktivitas orang yang melakukan ibadah haji seluruhnya mencerminkan kepatuhan dan ketaatan. Bahkan untuk mencontoh Rasulullah – mencium hajar aswad (batu hitam) sekalipun mereka ikhlas dan rela melakukannya karena patuh dan taat kepada Allah. Hal ini, sejalan dengan apa yang mereka nyatakan dalam talbiyah, Labbaik Allahumma Labbaik (Ya, Allah ini aku datang memenuhi panggilan-Mu; siap untuk melaksanakan apapun yang Engkau perintahkan, siap meninggalkan apapun yang Engkau larang! Di dalam kehidupan pasca ibadah haji, kesiapan inilah yang menjadi salah satu indikasi penting bagi seseorang apakah hajinya mabrur atau tidak.

Allahu Akbar 3x Walillahil Hamdu!
Hadirin Jama’ah Idul Adha Rohimakumulloh

Orientasi pengorbanan karena Allah diwujudkan dalam bentuk kepedulian sosial dan perhatian terhadap lingkungan. Daging qurban boleh dinikmati oleh orang yang berqurban yang merupakan nikmat dan anugerah Allah, tetapi sebagian yang lain; didistribusikan secara adil dan merata terutama kepada mereka yang benar-benar membutuhkan sebagai bentuk kepedulian sosial dan perhatian terhadap lingkungan. Allah Berfirman dalam surat al Hajj ayat 28:

Nikmat dan karunia Allah tidak hanya diterima oleh orang-orang tertentu saja melainkan diterima juga oleh orang-orang yang berada di lingkungannya, terutama oleh mereka yang berada pada posisi mustad’afin (lemah ekonominya). Penyakit-penyakit sosial, seperti sikap apatis, individualistik, egoistik, dan kazaliman-kezaliman lainnya diharapkan dengan sendirinya akan terkikis melalui proses interaksi dalam kehidupan sosial yang dijiwai oleh semangat pengorbanan karena Allah, sehingga apa yang disebut dengan kesenjangan sosial akibat ketidakadilan yang dapat menimbulkan sikap dan perilaku kriminalitas serta anarkis dan kejahatan-kejahatan ekonomi dan sosial lainnya dapat dihindarkan.

Allahu Akbar 3x Walillahil Hamdu!
Hadirin Jama’ah Idul Adha Rohimakumulloh

Tujuan berqurban adalah taqarrub kepada Allah SWT, yaitu mendekatkan diri sedekat mungkin kepada-Nya untuk memperoleh rahmat, maghfirah, dan ridha-Nya. Upaya mendekatkan diri kepada Allah adalah proses yang terus menerus bergerak tanpa henti. maka di dalamnya pasti terdapat dinamika, terdapat aktivitas, kreativitas, produktivitas, dan inovasi-inovasi, yang kesemuanya berjalan sesuai dengan aturan dan ketentuan Allah SWT, berjalan secara efisien, efektif, disiplin, istiqamah, dan manfaat bagi lingkungannya. Ada dua hal yang terus menerus bergerak dalam proses taqarrub, pertama terus menerus bergerak tiada henti berzikir kepada Allah, ia bahkan melakukan  تَخَلُّقْ بِأَخْلاَقِ اللهِ(berakhlak dengan akhlak Allah). Kedua proses internalisasi, melakukan penyontohan dan peneladanan terhadap sifat dan akhlak Allah, sehingga akal sebagai top eksekutif (presiden) di dalam wilayah kekuasaan jasmani dan ruhani dapat mengintruksikan kepada pancaindra dan anggota badan dengan instruksi-instruksi yang telah terilhami dari Allah SWT, akibat hatinya yang terus menerus berzikir dan takhalluq bi akhlaqillah maka yang keluar dari anggota badannya – yaitu sebagai tahaqquq atau realisasi dari zikir dan pikir serta proses peneladanan terhadap sifat dan akhlak Allah – tiada lain adalah aktivitas-aktivitas, produktivitas, dan inovasi-inovasi yang positif konstruktif dan berguna yang berwujud kegiatan-kegiatan yang di dalam bahasa agama disebut amaliyah shalihah yang pada gilirannya akan membentuk budaya dan kebudayaan yang shalih.

Allahu Akbar 3x Walillahil Hamdu!
Hadirin Jama’ah Idul Adha Rohimakumulloh

Nilai-nilai semangat dan sejarah berqurban seperti yang telah kita sebutkan hanya akan menjadi “laksana mutiara dalam lumpur” manakala kita tidak dapat mewujudkannya kedalam kenyataan hidup dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sesuai dengan maksud dan tujuannya, sepatutnya ibadah qurban yang disyari’atkan oleh Allah ini, kita jadikan sebagai sarana pendidikan; kita jadikan sebagai instrumen atau alat untuk mewujudkan nilai-nilai intrinsiknya (harkat yang terkandung di dalamnya ) diaplikasikan dalam kenyataan kehidupan kita sehari-hari, sehingga sesuai dengan sifat dan kemanfaatannya dapat dirasakan secara bersama-sama, terutama oleh masyarakat dan lingkungan dimana kita berada.

Di samping itu bangsa Indonesia belum sepenuhnya terbebas dari krisis-krisis yang melanda bangsa ini, seperti krisis sosial, krisis kepemimpinan, politik, krisis ekonomi, bahkan krisis moral, krisis nilai, ajaran, solidaritas sebagai bangsa, krisis kepercayaan, krisis kejujuran, dan semangat pengorbanan. Nampaknya, kita sangat membutuhkan semangat pengorbanan dan solidaritas, agar kita dapat keluar dan terbebas dari segala bentuk krisis yang sedang kita alami. Oleh karena itu, dalam kesempatan yang berbahagia ini, saya selaku khatib mengajak “Hari Raya Idul Adha dan penyelenggaraan ibadah qurban kali ini, kita jadikan momentum untuk mewujudkan nilai, ajaran, semangat pengorbanan karena Allah, dan solidaritas, baik sebagai bangsa Indonesia, maupun sebagai umat Islam sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan keluarganya.

Kepada mereka yang menunaikan ibadah haji, semoga hajinya bermanfaat sebagi haji yang mabrur. Kepada mereka yang kini dilanda berbagai musibah dan kesulitan semoga Allah memberikan kesabaran dan segera membebaskan mereka dari kesulitan-kesulitan yang mereka alami.

Kita ucapkan do’a semoga kita dan mereka yang berqurban karena niatnya yang tulus ikhlas, amal ibadahnya bermanfaat, dosa dan kesalahannya diampuni, segala usaha dan aktivitasnya diberkati, pengorbanannya yang berdimensi vertikal dan horizontal, yang berdampak kepada harmonisnya kehidupan sosial, mendapatkan anugerah dan ridha Allah SWT. Amin yaa rabbal ‘alamin.

جَعَلَنَا اللهُ مِنَ اْلمُتَقَرِّبِيْنَ  وَاْلمُتَّقِيْنَ . بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ والْذِّكْرِ  اْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ  إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ . وَاسْتَغْفِرُوْهُ  إِنَّهُ هُوَ  اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
خطبة الثانية
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثـَنّىَ بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُّمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ الَلهُّمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّينِ وَاَعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. الَلّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبّنَا آتِناَ فِى الدّنيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.  
عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُناَ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Selasa, 17 Maret 2015

Pengertian Idul Adha

IDUL ADHA

Dalam kamus al Munawwir halaman 983 idul adha diartikan dengan hari raya qurban dan dalam buku ensiklopedi Islam jilid 3 halaman 81 qurban berarti dekat atau mendekati sedangkan dalam ilmu fiqih qurban berarti juga udhiyah yang berasal dari kata dahwah atau duha yang kemudian diambil kata dahiyah bentuk jamaknya adalah udhiyah. Imam sayyid sabiq dalam kitab fiqh sunnah jilid 2 halaman 28 menyebutkan:
“Kalimat udhiyah dan dhahiyah adalah nama untuk sesuatu yang disembelih baik berupa unta, sapi atau kambing di hari raya qurban dan hari tasyriq karena mendekatkan diri kepada Allah”

Diantara ayat al Quran yang selalu dijadikan dasar pelaksanaan qurban adalah surat al Kautsar ayat 1-3:
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.

Dan surat al Hajj ayat 36:
dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam Keadaan berdiri (dan telah terikat). kemudian apabila telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur.

Berdasarkan ayat-ayat tersebut, mazhab Imam Hanafi memberikan hukum wajib menyembelih hewan qurban setiap tahun bagi orang yang bermukim (bukan musafir). Akan tetapi mayoritas ulama yakni mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali memandang bahwa hukum melaksanakan ibadah qurban adalah sunah muakkad (sunah yang sangat dianjurkan).

Terlepas dari perbedaan hukum tersebut yang jelas dan perlu kita ingat adalah bahwa disyari’atkannya menyembelih hewan qurban berawal dari sebuah peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim a.s melalui mimpi, hal ini dijelaskan dalam surat ash Shaffat ayat 102-107:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

Ajaran Ibrahim atau penemuan beliau benar-benar merupakan lembaran baru dalam sejarah kepercayaan dan kemanusiaan. Walaupun tauhid bukan sesuatu yang tidak dikenal sebelum masa beliau, demikian pula neraca keadilan Allah serta pengabdian kepada yang hak dan transenden, namun itu semua sampai pada masa Ibrahim bukan merupakan ajakan kenabian dan risalah untuk seluruh umat manusia.
Ibrahim hadir dipentas kehidupan pada suatu masa persimpangan menyangkut pandangan tentang manusia dan kemanusiaan. Beliau hadir pada masa ketika diperselisihkan tentang boleh tidaknya manusia dijadikan sesajen kepada Tuhan. Satu pihak memperbolehkannya dan pihak yang lain tidak memperbolehkannya karena manusia terlalu mulia untuk tujuan tersebut. Melalu Ibrahim secara amaliyah dan tegas larangan mengorbankan manusia dikukuhkan. Bukan karena manusia terlalu tinggi nilainya sehingga tidak wajar untuk dikorbankan akan tetapi karena Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ibrahim bermimpi bahwa putranya yang bernama Isma’il disembelih dan ketika dimintai pendapat tentang mimpi bapaknya maka dengan keshalihannya Isma’il menjawab: “Wahai bapakku laksanakanlah apa yang diperintahkan, niscaya engkau akan menemuiku termasuk orang yang sabar”. Ketika perintah tersebut akan dilaksanakan oleh Ibrahim dan Isma’il maka Allah dengan kekuasaan-Nya menghalangi penyembelihan tersebut dan menggantikannya dengan yang lain sebagai tanda bahwa hanya dengan kasih sayang Allah kepada manusia maka praktek pengorbanan semacam itu tidak diperkenankan.

Dari peristiwa penemuan dan pembinaan keyakinan Nabi Ibrahim tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud kurban bukanlah perbuatan mengalirkan darah binatang dan membagi-bagikan dagingnya, hal dijelaskan dalam al Quran surat al Hajj ayat 37:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Juga dalam surat al Hajj ayat 34-35 dijelaskan:
dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka.

Dengan kata lain, menyembelih qurban dihubungkan dengan perbuatan taqwa, berserah diri kepada Allah, rendah diri dan sabar dalam menghadapi kesukaran dan ujian. Perbuatan menyembelih hewan qurban terang-terangan disebut dapat mempengaruhi batin, karena dapat membuat hati menjadi gemetar pada saat nama Allah dikumandangkan.

Menyembelih hewan qurban dan mengalirkan darahnya tidaklah membuat orang yang berqurban menjadi buas atau kejam melainkan sebaliknya membuat mereka merasa rendah hati. Kenapa demikian? Karena mereka sadar jika hewan yang dikuasainya saja mau mengorbankan dirinya maka sudah sewajarnya mereka harus berani mengorbankan hidupnya di jalan yang Allah ridhai. Allah bukan sekedar majikan manusia namun Allah adalah dzat yang menciptakan dan memelihara manusia dan kekuasaan Allah jauh lebih besar dari kekuasaan manusia atas binatang.

Dari uraian tersebut Nampak sekali bahwa Islam member pengertian baru terhadap ajaran qurban. Tradisi qurban yang sudah biasa dilakukan oleh sebagian manusia diartikan lebih mendalam oleh agama Islam. Dalam bentuk lahir mungkin saja ada persamaan tetapi dalam bentuk batin sangat berbeda. Agama terdahulu sebelum Islam datang mengartikan qurban dengan maksud meredakan murka Allah atau menebus dosa tetapi menurut Islam qurban berarti pengorbanan jiwa dan raga, lahir dan batin serta menjadi lambang kerelaan dirinya untuk mengorbankan hidupnya dan segala sesuatu yang dimilikinya untuk membela kebenaran dan mencari keimanan kepada Allah yang sesungguhnya.

Menyembelih binatang qurban merupakan gambaran agar menyembelih sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia. Sedangkan dipilihnya hari untuk menyembelih hewan qurban memiliki maksud agar seluruh hati umat Islam khususnya dan umat manusia umumnya berdenyut dalam waktu yang sama untuk melaksanakan satu cita-cita yaitu meneguhkan keimanan kepada Allah swt. Dengan demikian ibadah qurban pada idul adha memimpin manusia untuk mengembangkan cita-cita berqurban demi kepentingan umat manusia secara keseluruhan.